PLANET KECIL

<!--[if gte mso 9]>
Padahal aku sudah memagari hatiku dengan pagar berkekuatan titanium
Menjalarinya dengan semak belukar akar strawberry
Menancapkan kunci dari emas 24 karat
Hanya agar ada satu harapan
Semoga dia tidak datang menyakitiku.
PLANET KECIL
Oleh : Hotarubi
Hari ini panas. Sambil menopangkan dagu dan berkipas-kipas santai, aku mengamati temanku yang sedang ceria menghadapi seorang laki-laki di depannya. Wajahku jutek, dan mataku separo terbuka hanya agar temanku tidak tahu aku sedang iri padanya. Aku rasa fenomena seperti itu tidak akan sudi hadir dalam hidupku, dalam planet kecilku. Tentu saja temanku sedang tidak ada di dalam planet kecilku, dia sedang keluar ke dunia lain, dunia asing yang tak pernah aku temukan untuk kusinggahi.
Serangan panas semakin intens menyerang. Dan aku yang semakin tak mau kalah menambah kecepatan tanganku untuk menangkis angin panas ini. Akhirnya dosen itu datang bertepatan dengan hawa dingin ganjil dari AC, yang keluar setelah sang dosen memencet-mencet remote control. Anak-anak bingung mau bereaksi apa, kami kesal dengan dosen itu tapi merasa terselamatkan dengan AC yang dosen itu usahakan menyala. Hari ini ada ujian susulan untuk tambahan nilai kami yang benar-benar dibawah garis kemiskinan, betapa baiknya dosen ini tidak membiarkan kami bertemu lagi dengan dirinya dan kuliah super banyak tata caranya. Mungkin kami akan berpikiran seperti itu jika saja dia tidak memilih hari terpanas ketika matahari ada di puncak kota kampus dan di tengah liburan semester. Hari yang sempurna. Untuk menyiksa.
Dosen membagikan lembar ujian kepada kami, langsung menyuruh kami bekerja dalam waktu kurang dari 3 jam mulai dari sekarang. Seusai penjelasan yang singkat itu ia langsung pergi meninggalkan ruangan kami untuk kembali ke ruang dosen yang hawanya adem dan sejuk dengan pertolongan dari 4 AC. Muka kami nyinyir.
Pensil, penggaris, penghapus, serutan, drawing pen mulai dari 0,1 sampai 0,8 dan segala cat air aku tumpahkan keluar tanpa memilah-milah lagi. Memulai untuk mengeruk inspirasi yang hampir menguap seluruhnya oleh hawa panas.
“ide ide ide” aku memanggilnya 3 kali, katanya pasti datang. Hatiku sudah menghela napas bingung dengan kebiasaan anehku yang satu ini sebab hatiku sudah menyerah saat aku mencobanya pada hujan.
Akhirnya aku memutuskan untuk melihat gambar yang sedang di buat anak yang lainnya. Ternyata yang lain sudah memikirkan konsepnya sendiri-sendiri. Hatiku merutukiku. Aku putuskan bahwa aku masih belum punya jangka untuk membuat lingkaran, alih-alih menunda waktu untuk menghadapi kenyataan ujianku, diriku ku ajak berkeliling untuk mencari pinjaman. Secercah harapan datang dari temanku yang duduk-duduk di kursi dosen yang memiliki meja lebar yang sesuai untuk menggambar. Sambil melihat gambarnya yang full inspirasi megabyte, aku takut-takut meminjam jangkanya yang tergeletak bebas di atas meja. Dan gara-gara aku menyangkal hatiku yang menjerit minta pergi dari hadapan anak ini, aku menerima balasannya, Temanku menghardikku. Hatiku tejungkal kebelakang, dia kesakitan. Di saat aku menciut seakan mengecil seperti Alice in wonderland, hatiku melihat uluran tangan di suatu tempat di dekat sini. Aku melirik sedikit pada teman satunya lagi.
DEG
Hatiku sunyi.
Kali ini giliran diriku yang berteriak memperingatkan hatiku
Jangan yang ini
Tapi hatiku telah lebih dulu menggenggam uluran tangan itu.
Kami berpandangan seakan dia telah menggengam hatiku. Fenomena ini singkat tapi begitu lama sebab dunia di sekitar kami telah berhenti bergerak sampai menimbulkan dimensi lain pada kami berdua. Tatapan di antara biasan warna pelangi dari balik kaca matanya yang oval. Aku tak bisa merasakan udara segar masuk kedalam paru-paruku, hatiku mendesak-desak keluar dari dalam tubuhku.
Tak ada reaksi apapun dari kami berdua, aku sedang memastikan apakah laki-laki ini sedang kehilangan kewarasannya gara-gara hawa panas yang sedang menggerogoti keseratus persenannya. Mungkin dia sedang menatapku karena tidak yakin memiliki teman sekelas seperti aku, atau mungkin sedang mengingat-ingat kapan terakhir kali dia menyapaku. Aku sedang menarik hatiku ke bawah dengan berbagai alasan agar tidak melambung terlalu tinggi.
Tetapi tidak. Bibir merahnya yang tak pernah tersentuh rokok-mungkin sesekali- bergerak kesamping. Hatiku tanpa sadar mengikuti gerakannya.
Kami berdua tersenyum.
Sedikit tertawa keluar dari sela-sela bibirnya. Dan aku betapa bodohnya pada waktu yang bersamaan mengikuti semua yang dilakukannya. Jadilah kami dua orang aneh yang seperti sedang menertawakan sesuatu diantara mata kami. Tanganku berpegangan pada meja, hanya supaya aku tidak limbung dan mencegah hatiku membumbung melihat senyuman manis dan polosnya.
Sadar dengan keganjilan yang sedang terjadi, temanku itu menggambilkan jangka yang aku butuhkan dari tasnya. Tanpa aku harus mengulangi permintaanku seperti pada temanku yang tadi. Sambil memamerkan senyuman yang masih terus ingin tersungging aku mengucapkan terima kasih dan kabur dari sana.
Saat itulah dunia kecilku sekarang berubah sesak.
Hatiku masih diam, sedang tak ingin bicara. Maka aku merasa sendirian di planetku yang baru ini. Aku sampai meninggalkan handphoneku di kelas setelah melewati setengah perjalanan pulang jalan kaki, gara-gara aku sibuk mendebat hatiku yang sedang pendiam. Sampai sekarang.
Aku suka nonton film romantis, mulai dari yang Amerika sampai yang dari negeri India. Mungkin klise kedengarannya tapi aku memang berpikir bahwa hal-hal berbau romansa hanya bisa aku tonton tanpa bisa menyentuhnya. Terasa dekat di mata tapi jauh di hati dan diriku. Belakangan aku juga sadar bahwa ada pengecualian tentang film romantis yang kusukai. Yaitu jika ada salah satu dari aktor atau aktrisnya memiliki wajah dibawah garis standardisasi, maka aku akan membencinya. Merasa hal itu tidak adil jika terjadi. Rasanya tidak setuju kalau aktor itu harus disandingkan dengan aktris dengan tampang…mmm.
Lalu bagaimana jika itu terjadi padaku?
Hatiku bereaksi sebentar. Hatiku bingung mengapa aku mengingat-ingat hal-hal seperti itu sekarang. Dia merasa tak ada yang sinkron dengan perasaannya sekarang ini.
Tentu saja karena hatiku tidak bisa melihat diriku dan diri temanku itu.
Maka aku menjelaskan deskripsi diriku pada hatiku. Aku memiliki wajah yang benar-benar tidak masuk hitungan bahkan hanya untuk casting figuran. Pipiku tembem dengan bibir tebal yang berwarna hitam dan warna merah kontras. Kulitku coklat tua seperti sawo matang yang hampir busuk, begitu aku menyebutnya. Rambutku ikal berantakan asli bukan rambut menggantung bikinan salon. Mataku coklat membosankan. Hidungku juga super aneh, seperti bercabang ditengah.dan tubuhku tak berbentuk seperti tiang listrik, tapi tiang listriknya rubuh separuh. Tubuhku lembek karena tidak pernah berolahraga, tapi kakiku kencang gara-gara kebanyakan jalan kaki. Dan suaraku cempreng luar biasa.
Hatiku melirik curiga, untuk membenrkan kecurigaannya aku menjelaskan bagaimana diri temanku pada hatiku sekalian.
Satu paku menancap di hatiku.
Temanku itu…
JDUK
Belum apa-apa aku sudah kesandung ketika memikirkannya. Temanku itu…apa yang tak bisa aku ingat darinya. Sejak pertama dan dari beberapa jam yang lalu, bagiku dia hanya teman sekelas yang masih belum menganggap keberadaanku. Aku juga tak pernah merasa bisa punya hubungan apapun dengannya, bahkan sebagai temanpun tidak. Hanya gara-gara dia memiliki kelas dan jadwal yang sama denganku menjadikannya terpaksa berstatus teman sekelas.
Wajahnya lebih muda dari umurnya, begitu kekanak-kanakan. Matanya coklat ceria, dibalik kacamata inteleknya. Hidungnya tidak mancung tapi begitu pasnya di wajah bulatnya. Bibirnya merah muda agak pucat bertengger polos tanpa cambang dan kumis sedikitpun. Kulitnya putih, sangat putih bagi ukuran seorang laki-laki. Tingkahnya konyol tapi begitu mantap dan berani seolah-olah semuanya berjalan sesuai dengan rencananya. Di balik kecuekan dan kesadisan sifatnya, aku tahu dia masih memiliki hati yang baik, aku rasa begitu. Dan jangan biarkan aku menjelaskan kecerdasan dan lompatan ide briliannya. Seakan dia memang sudah terlahir dengan segala inspirasi-inspirasinya sejak lahir, aku berpikir jangan-jangan hal yang pertama kali dia bisa adalah mencoret tembok dan lantai.
Saat ku intip hatiku dia sudah seperti landak, penuh tancapan.
Akhirnya hatiku sadar kenapa aku mengekangnya sekarang, dia pasrah dan mencoba menggeliat untuk melepaskan paku itu satu-persatu. Pasti butuh waktu yang lama sekali.
Jadi begitulah ceritanya. Aku tak mungkin berkhianat pada hatiku dan semua film yang aku cela selama ini. Kalau aku menjelek-jelekkan aktris yang seenaknya mencomot actor yang keren sebagai pasangan lalu bagaimana denganku? Melihat dari sudut pandang objektif, kali ini akulah aktris nggak tahu diri itu. aku merasa sangat jahat sekali jika harus menghancurkan reputasi temanku itu karena masuknya diriku dalam kehidupan sempurnanya.
Kata orang cinta itu egois. Seandainya aku bisa meminjam istilah itu untuk membenarkan keegoisanku seandainya…. Tapi tidak. Aku tidak bisa egois pada temanku. Aku ini seperti sesshomaru, ingin membunuh tapi yang ia punya malah pedang yang bisa menyelamatkan manusia dari kematian. Ironi kehidupan ini membuat hatiku makin meminum racun mengecilkan ukuran milik Alice.
Jadi hatiku, aku tidak bisa egois. Kasihan temanku itu, hidupnya yang sempurna akan memiliki kecacatan jika aku harus merecoki kesempurnaannya. Aku akan bagai api dalam sekam, duri dalam dagingnya. Bagaimana bisa si buruk rupa mendapatkan pangeran idamannya jika dia tidak menyihir dirinya keluar dari golongan buruk rupa, bagaimana bisa the beast bersanding dengan the beauty jika the beast tidak kembali menjadi sang pangeran idaman. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku mendapatkan sihir sekeren itu?
Aku cukup dalam tubuhku saja. Dalam si buruk rupa ini, aku mensyukurinya tanpa punya alasan untuk marah pada siapapun dan zat apapun. Keadaan yang seperti ini adalah bagian hidupku yang sudah menjadi kebiasaan setiap hari.
Hatiku berdamai denganku akhirnya, ia malah menenangkan aku. Dia begitu baiknya. Aku tidak bisa membiarkan dia sakit hati lebih lanjut ketika berhadapan dengan kejamnya kenyataan. Dia terlalu rapuh untuk menantang arus bahaya yang akan ia lewati jika terus membumbung tinggi ke atas, landasannya bukan rumput landai tapi stalagmit curam. Dia terlalu berharga bagi diriku, aku tak bisa hidup tanpa dia dan dia takkan ada jika aku tak ada. Simbiosis ini begitu mengganggu tapi telah ku terima, dia adalah temanku, temanku yang tak bisa ku sembunyikan perasaanku satupun darinya.
Jadi sampai disini saja kisah ini. Takkan ku biarkan bagian hidupku ini sakit dan berlubang, karena hatiku adalah aku dan aku adalah hatiku. Jadi selamat tinggal temanku.
Komentar
Posting Komentar